Suatu ketika, seekor burung manintin bersampan bersama seekor ulat di sebuah danau yang jernih airnya. Perahu mereka adalah belahan buah mentimun yang cukup besar, yang telah dibuang isinya. Mereka bersampan menyusuri tepi danau, sambil bernyanyi bersahut-sahutan.

Tin, tin menintin.
Geng!

Lalu datanglah seekor burung pelatuk, yang suka menokok-nokok batang pohon. Ia pun ingin sekali turut bersampan. Lalu katanya, “Aduhai, alangkah senangnya kalian bersampan, bolehkah saya ikut?”

“Boleh saja,” kata burung manintin, “Asal perahu timun ini tidak kau lobangi.”

“Ah, tentu saja tidak. Masakan saya berani melobanginya?” sahut burung pelatuk. Maka bersampanlah mereka bertiga. Kini nyanyiannya makin panjang dan merdu.
Continue Reading…