Migren bukanlah sakit kepala biasa. Ciri khas dari penyakit tersebut adalah rasa nyeri, berdenyut-denyut di salah satu sisi kepala, terkadang disertai rasa mual dan penglihatan yang kabur. Studi terbaru menunjukkan bahwa penderita migren seringkali mengalami kerusakan otak akibat pembengkakan sel otak dan kekurangan oksigen.
Hasil studi tersebut juga menjelaskan mengapa migren sering berlanjut dengan serangan stroke. Kerusakan otak yang serupa bisa terjadi saat seseorang mengalami gegar otak dan setelah terjadinya stroke. Demikian kesimpulan studi yang dipublikasikan dalam Journal Nature Neuroscience.
Menurut para ahli, penderita migren sebaiknya tidak hanya mengonsumsi obat penghilang sakit kepala biasa, melainkan mencari obat yang bisa menghindari terjadinya migren. Dalam sebuah riset terhadap tikus percobaan, terbukti bahwa pemberian oksigen dapat membantu mengurangi terjadinya kerusakan di otak yang bisa menyebabkan stroke.
Dalam sebuah studi di tahun 2004 yang dilaporkan dalam British Medical Journal disebutkan bahwa penderita migren dua kali lebih besar risikonya untuk terkena stroke dibandingkan dengan mereka yang bebas dari sakit kepala. Migren terjadi pada enam dari 100 orang, umumnya menyerang perempuan berusia 10 sampai 46 tahun dan berangsurangsur menghilang setelah menopause.




